Wakil Bupati Bantul Membuka Focus Discussion Group (FGD) Manajemen Pengelolaan Sampah

Jumat 10 Maret 2017 di Jogja Expo Center Ruang Yudhistira dilaksanakan Rapat Koordinasi Pembahasan Program Prioritas Pembangunan Tahun 2018 Dengan Fokus Manajemen Pengelolaan Sampah menuju Bantul Bersih 2019. Hadir dalam acara tersebut, Wakil Bupati Bantul, Kepala Bappeda Kabupaten Bantul, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul, Prof. Dr. Ir. Budi Prayitno, M.Eng. dari UGM Yogyakarta, DPRD Bantul, Asisten Sekda, Staf Ahli Bupati, Tenaga Ahli Bupati, Kepala OPD Kabupaten Bantul, Camat se Kabupaten Bantul, Lurah Desa Se Kabupaten Bantul dan tamu undangan.

Sekretaris Bappeda Bantul Reni Mariastuti, SH, M.Hum, dalam laporannya mengatakan tujuan umum yakni : menyamakan persepsi seluruh stack holder terkait dengan manajemen pengelolaan sampah terpadu dan pengeloaan sampah . Tujuan khusus FGD ini adalah terumusnya bagi peran penanganan sampah oleh masing-masing OPD dan kelompok penggiat sadar lingkungan hidup.

Mengakhiri sambutannya Sekretaris Bappeda,mengharapkan kegiatan FGD pengeloaan sampah menuju Bantul Bersih Sampah 2019 ini dapat menghasilkan rencana aksi jangka pendek dan panjang dalam strategi penanganan sampah. Kekompakan seluruh stackholder dalam penanganan sampah merupakan hal yang wajib untuk dijaga dan dikembangkan bersama. Kurang lebih 160 peserta FGD Pengelolaan Sampah yang hadir di acara ini, diharapkan mampu menghasilkan output yang komprehensif dalam penanganan sampah , katanya.

Sementara Wakil Bupati Bantul H. Abdul Halim Muslih dalam sambutannya mengatakan, perumusan penanganan sampah di Kabupaten Bantul menuju Bantul Bersih 2019 sangatlah penting, Pemda telah menetapkan quick wins penanganan sampah oleh seluruh stakeholder, harus dilaksanakan secara kompak dan intregatif.

Mengawali FGD ini pengelolaan sampah ini, wajib kita lakukan untuk menyelamatkan Kabupaten Bantul dari timbunan sampah dimana-mana. Dimana 68% sampah diangkut dan ditimbun sisanya dibuang disembarang tempat (sungai atau jalanan), sampah merupakan ancaman serius, kalau tidak dikelola akan memunculkan dampak yang beraneka ragam. Survey dari BPS 56% masyakatat kita ini malas mengelola sampah untuk itu perlu kampanye yang intensif ke semua lini masyarakat, kata Wakil Bupati.

Di sisi yang lain Wakil Bupati menjelaskan, sampah itu satu sisi sebagai sumber kehidupan bukan ancaman sebetulnya, bila kita dapat mengelola dengan baik. Adanya upaya pemanfaatan limbah sampah non organik melalui bank sampah dapat meningkatkan income rumah tangga dari hasil kreasi sampah tersebut. Kepada seluruh Lurah se Kabupaten Bantul saya harapkan mempunyai TPSS atau Tempat Pembuangan Sampah Sementara, Bank Sampah dan Kelompok Pengelola Sampah tingkat desa, ucapnya.

Lebih lanjut Wakil Bupati menjelaskan, bahwa penanganan Sampah dilakukan dengan berbagai pendekatan seperti pendekatan kesehatan, lingkungan, ekonomi, agama, hukum, budaya (etika/estetika).

Masing-masing SKPD mempunyai peran ditempat masing-masing sesuai tugas pokok dan fungsinya menangani bangkitan sampah seperti Dinas Perdagangan fokus di pasar-pasar dan menjaga pasar tetap bersih, Rumah sakit atau puskesmas berfokus pada penanganan sampah-sampah medis yang perlu penanganan khusus, Rumah Tangga dan pemukiman ditangani oleh pemerintah desa, Wilayah Pariwisata oleh Dinas Pariwisata, adapun masing-masing SKPD bertanggung jawab di lingkungan kantornya, adapun sampah disungai harus dikoordinasikan dengan Balai Besar Sungai, tambahnya.

Menutup sambutannya Wakil Bupati menjelaskan, di tahun 2019, kita belum bisa mengelola sampah dengan sempurna akan tetapi, target minimal tercapai yaitu sampah ada ditempatnya, bukan tempat sampah ada dimana-mana. (rch)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *